Blog Indonesia Bercerita

Mendidik melalui Cerita. Membebaskan imajinasi anak. Membangun karakter bangsa.

0

Aktivasi Empati Siswa Melalui Bercerita

Author : Bukik | March 5, 2012 at 10:39 am

Empati adalah kapasitas untuk merasakan dan peduli terhadap perasaan orang lain. Daniel H. Pink menyebutkan empati sebagai 1 dari 6 kapasitas yang dibutuhkan dalam menghadapi jaman kreatif. “Empati luar biasa penting. Perilaku itulah yang memungkinkan spesies manusia mendaki keluar dari lubang kotor mencapai puncak evolusinya,” tegas Pink dalam bukunya A Whole New Mind.

Oprah Winfrey menyebutkan pentingnya empati dalam kepemimpinan. Pemimpin adalah mereka yang mampu berempati, mampu berhubungan dan berelasi dengan orang lain untuk memberi inspirasi dan memberdayakan hidup orang tersebut. Tanpa kemampuan berempati, pemimpin tidak akan bisa menyentuh hati dan menggerakan orang lain. Tanpa empati, kerja sama dan kolaborasi antar pihak sulit terwujud.

Sayangnya, modernisasi lebih berpihak pada rasionalitas. Kapasitas yang bersumber dari otak kiri mendapat tempat yang dominan. Sementara, empati dan kemampuan yang bersumber dari otak kanan mendapat perhatian kecil. Dampaknya sampai terasa pada sekolah yang terbatas metodenya dalam mengajarkan empati. Padahal pendidikan adalah bagaimana kita bisa hidup sebagai diri sendiri sekaligus hidup bersama orang lain dalam keragaman.

Penting untuk segera mengembangkan metode dan teknologi pendidikan untuk mengembangkan empati siswa. Empati, berbeda dengan pengetahuan, tidak dapat diajarkan dengan menghafalkan atau bahkan memahami pengertiannya. Empati itu tentang rasa dan laku. Pendidikan yang mengembangkan empati harus membuat siswa terampil dalam mengasah rasa dan mengola lakunya.

Kemungkinan metode yang paling efektif dalam mengembangkan empati adalah mengalami langsung kehidupan orang lain yang berbeda. Ajak siswa ke panti asuhan atau rumah sakit. Kita kemudian bisa mengajak siswa merefleksikan pengalamannya tersebut, merasakan rasa dari penghuni panti asuhan atau rumah sakit. Tetapi keterbatasan cara ini jelas, butuh waktu dan biaya tidak sedikit serta sulit untuk dipraktekkan dalam keseharian di sekolah.

Metode mengembangkan empati itu setidaknya memenuhi kriteria : mudah dilakukan, bisa direplikasi dan bisa diintegrasikan. Mudah dilakukan berarti setiap pihak di dunia pendidikan bisa cepat menguasai metodenya. Bisa direplikasi berarti metode itu bisa disebarluaskan ke berbagai penjuru dan kalangan. Bisa diintegrasikan berarti metode itu bisa sinergis dengan praktek keseharian di dunia pendidikan.

Pendidikan empati itu tidak mudah. Oleh karena itu, Ashoka Changemakers mengundang praktisi pendidikan, sekolah, organisasi sosial dan individu untuk terlibat dalam kompetisi “Activating Empathy: Transforming Schools To Teach What Matters“. Kompetisi ini adalah kompetisi global yang mencari solusi untuk membantu orang muda belajar dan mempraktekkan empati di sekolah sehingga mereka bisa menghadapi perubahan dunia yang begitu cepat.

Indonesia Bercerita sendiri mencoba menggagas Metode Kartu Bercerita. Kartu Bercerita adalah metode yang memudahkan guru untuk memfasilitasi murid dalam membayangkan, merasakan dan menyentuh emosi siswa pada gambaran kehidupan yang berbeda.

Bercerita mengajak orang untuk menciptakan gambaran suatu kehidupan tertentu. Pembayangan ini melibatkan keseluruhan diri, seluruh indera dan emosi siswa. Dengan pembayangan ini, siswa bisa merasakan dan peduli terhadap ragam kehidupan dengan kehidupan yang dijalaninya.

Bercerita atau bertutur adalah tradisi yang mengakar pada bangsa Indonesia. Tradisi itu bisa terlihat pada kayanya dongeng rakyat, beragam jenis pertunjukkan boneka/wayang hingga kebiasaan warung kopi. Adanya tradisi bercerita ini maka memudahkan masyarakat untuk mempelajari dan menerapkan kartu bercerita.

Kartu Bercerita akan diproduksi dalam bentuk cetak dan digital. Dengan keragaman bentuk ini diharapkan Kartu Bercerita lebih mudah diakses dan disebarluaskan ke berbagai penjuru. Selain itu, Kartu Bercerita nantinya akan terdiri dari beragam seri kartu yang ditujukan pada segmen umur siswa yang berbeda.

Adanya Kartu Bercerita ini tidak menuntut guru dan murid untuk melakukan “pekerjaan tambahan”. Kartu Bercerita ini bisa khusus digunakan dalam sesi pengembangan empati tapi juga bisa digunakan dalam beragam pelajaran. Kemungkinan mengintegrasikan dengan praktek pendidikan yang telah ada membuat Kartu Bercerita lebih mudah diterima dan diterapkan.

Kartu Bercerita digunakan oleh guru yang berperan sebagai fasilitator kelas.  Awalnya, guru akan menyampaikan sebuah topik dengan bercerita. Setelah itu, guru meminta murid melihat dan memilih satu dari satu set Kartu Bercerita. Kemudian murid bercerita mengenai topik tersebut dengan menggunakan Kartu Bercerita. Tahapan ini dapat dimodifikasi berdasarkan pelajaran, usia siswa serta waktu yang tersedia.

Apakah kakak mempunyai ide tentang metode pendidikan empati? Atau punya masukan buat Indonesia Bercerita? Sharing yuk kak

 

Catatan: Oh ya kak, Empati juga jadi topik program Faya untuk bulan Maret 2012 ini lho. Coba cek Program #Faya : Imajinasikan Indonesia

Tags: , , , , ,

Suka dengan artikel ini?

Ayah yang suka bercerita pada putrinya

http://bukik.com user

Tulis Komentar

Email Anda tidak akan pernah di share ke orang lain. Wajib Diisi *

*
*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>