Blog Indonesia Bercerita

Mendidik melalui Cerita. Membebaskan imajinasi anak. Membangun karakter bangsa.

0

#Edustory 22: Membuat Cerita – Bertujuan sekaligus Alamiah

Author : Dwi | March 19, 2012 at 8:15 am

Salah satu elemen yang menyusun keseharian kita adalah cerita. Iya, bercerita menjadi bagian dari kehidupan kita di manapun kita berada. Bahkan, bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki budaya tutur: berbagai pengalaman yang diceritakan dari generasi ke generasi. Pertanyaannya adalah, seberapa sering anak Indonesia mendengarkan cerita yang mendidik?

Indonesia memang kaya akan cerita, baik pengalaman hidup maupun kisah-kisah dalam dongeng. Kita mengenal berbagai dongeng Nusantara, dari Si Kancil yang epik, cerita rempah Bawang Merah dan Bawang Putih, hingga Malin Kundang yang malang. Keseluruhan cerita yang kita pernah dengarkan pasti mempunyai maksud tertentu. Namun ternyata, tidak semua cerita dapat dikatakan benar-benar mendidik.

Si Kancil misalnya, kita mengetahuinya sebagai hewan yang cerdik. Namun sangat disayangkan karena kecerdikannya berubah menjadi kelicikan; iya, Kancil menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Berapa banyak hewan yang kira-kira berhasil ditipunya ya?

Malin Kundang punya cerita yang lain. Tak ada kesempatan baginya untuk berubah setelah memperoleh kekayaannya, karena ibunya mengutuk Malin menjadi batu. Cerita ini memang mempunyai pesan untuk menghormati orangtua, namun di sisi lain ia membawa prasangka bahwa orang yang jahat akan tetap jahat dan tak perlu diberi kesempatan untuk menjadi baik.

Memang, penokohan dalam cerita membutuhkan karakter-karakter yang kuat, namun sebagaimana cerita menjadi cerminan kehidupan nyata, karakter-karakter tersebut tak seharusnya menjadi fatalistik. Tak selamanya Si Kancil cerdik dan berhasil dengan tipuan-tipuannya, dan baik Bawang Merah maupun Malin Kundang seharusnya mendapat kesempatan belajar dari kesalahan yang mereka perbuat. Karena, bisa jadi anak mengasosiasikan bahwa yang jahat akan selalu jahat dan pantas mendapatkan hukuman.

Dalam mendidik melalui cerita, ada capaian yang memang harus disampaikan kepada anak. Namun, pesan tak seharusnya disampaikan secara fatalistik; kesalahan seharusnya bisa menjadi pelajaran dan tak perlu selalu mendapatkan pelajaran tambahan. Melibatkan perubahan misalnya, baik yang dialami oleh tokoh protagonis maupun antagonis dalam cerita, akan membuat bercerita menjadi lebih alamiah, sekaligus memperkuat tujuan yang mendidik.

Yuk kak, kita berbagi pengalaman tentang seperti apa cerita yang bertujuan sekaligus alamiah, dan cara membuatnya di #Edustory 22. Nantikan ya, Senin 19 Maret 2012, pukul 19.00 WIB seperti biasa.

Apa ide kakak untuk membuat/merekonstruksi cerita agar tetap bertujuan sekaligus alamiah?

Tags:

Suka dengan artikel ini?

Tulis Komentar

Email Anda tidak akan pernah di share ke orang lain. Wajib Diisi *

*
*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

© 2011 Blog Indonesia Bercerita
Powered by WordPress | Desain Oleh Zulsdesign Studio