Blog Indonesia Bercerita

Mendidik melalui Cerita. Membebaskan imajinasi anak. Membangun karakter bangsa.

1

#EduStory 29: Bagaimana Bercerita dapat Memfasilitasi Proses Belajar?

Author : rudicahyo | May 7, 2012 at 10:38 am

Apa metode yang paling sering digunakan untuk pembelajaran di sekolah? Biasanya, untuk sekolah dasar dan menengah, metode yang banyak dipakai adalah ceramah. Sementara untuk PAUD atau Taman Kanak-kanak, bermain adalah metode yang biasanya digunakan. Bagaimana dengan bercerita?

Sumber Gambar: najeebasyeedmiller.tumblr.com

Coba ingatlah ketika kita masih di PAUD atau sekolah di Taman Kanak-kanak dulu. Apa yang menyenangkan dari pengalaman tersebut, terutama dalam proses belajarnya? Sebagian mungkin ingat masa-masa bermain bersama teman dan guru di dalam dan di luar kelas. Iya, bermain adalah cara kita belajar pada masa itu.

Beranjak ke jenjang pendidikan berikutnya, yaitu sekolah dasar, metode belajarnya sudah mulai diganti, yaitu ceramah di dalam kelas. Peran siswa untuk belajar sudah mulai berkurang. Siswa mulai lebih banyak diajari.

Biasanya orang memang memilah cara belajar anak berdasarkan usia. Sistem dan kurikulum umum yang diberlakukan di sekolah juga membaginya. Pembagian yang paling kentara memang antara metode bermain dan ceramah.

Lebih luas lagi, sebenarnya kecenderungan membagi cara belajar ini juga terjadi dalam kehidupan kita, yaitu pembagian rentang usia ke dalam tiga cara menjalani hidup. Apa itu? bermain, belajar dan bekerja.

Dulu waktu kecil, kita dipersilahkan bermain sesuka hati. Orangtua atau orang yang lebih tua meyakini bahwa usia tersebut memang usia bermain. Ketika anak sudah masuk sekolah, maka fase berikutnya adalah belajar. Jika pada saat sekolah anak masih bermain atau banyak bermain, maka ia akan mendapatkan teguran, diingatkan bahwa mereka seharusnya belajar. Begitu juga ketika sudah masuk waktunya bekerja. Temanku pernah ditegur ketika membaca buku di ruang kerjanya. “Sekarang masanya bekerja, kok masih baca buku aja”, demikian kata teman-temannya. Ini menunjukkan pembagian fase tersebut.

Padahal, setiap orang tidak pernah membuang masa kanak-kanaknya. Masa itu sudah menjadi bagian diri, berapapun usianya. Bermain itu menyenangkan. Kesenangan dibutuhkan oleh manusia. Karena menyenangkan, maka belajar akan jadi lebih mudah.

Di sisi lain, presentasi atau ceramah juga sama, memiliki nilai baiknya sendiri. Biasanya ceramah bersifat directive, mengarahkan dan lebih efektif untuk secara instant dilakukan, meskipun tidak berdampak lama atau menetap.

Kalau bermain dan ceramah sama baiknya, bagaimana dong? Eh, ada lagi nih, bagaimana dengan bercerita?

Bercerita bersifat moderat, berada diantara bermain dan ceramah. Jika dalam permainan anak-anak mengalami secara langsung realitanya, maka cerita mengajak anak-anak masuk kepada realita lewat kata-kata. Jika ceramah mengarahkan secara instant dan tidak bertahan lama, cerita memberikan inspirasi untuk berubah dan jadi pelajaran hidup sepanjang masa.

Hanya saja, jarang sekolah menggunakan cerita untuk metode belajarnya. Jikapun ada yang memakainya, cerita biasanya digunakan sebagai pengantar belajar atau jadi rutinitas harian siswa.

Memang ada 3 model pemanfaatan cerita dalam proses belajar anak-anak. 1) Cerita sebagai pengantar proses belajar, 2) Cerita sebagai metode penyampai dalam belajar, dan 3) Cerita itu sendiri adalah pelajarannya.

1. Cerita sebagai pengantar proses belajar

Sebelum belajar dilakukan, guru bisa memberikan cerita, baik pengatar yang ada hubungannya dengan pelajarannya atau hanya untuk menarik perhatian anak/siswa.

Cerita yang ada hubungannya dengan pelajaran biasanya jadi pengantar yang kemudian kelanjutan ceritanya adalah proses belajarnya. Misalnya cerita tentang kapal selam, dan guru mengakhiri cerita dengan, “Mau tahu bagaimana kapal selam berenang?”.

Untuk cerita yang tidak ada hubungannya, biasanya digunakan untuk ritual awal pembelajaran. Morning circle adalah contohnya. Anak-anak cerita pengalamannya di rumah kepada sesama temannya.

2. Cerita sebagai metode belajar

Di sebuah talkshow, aku pernah mencontohkan penggunaan cerita Timun Mas untuk belajar berhitung. Pemcahan teka-teki matematika untuk mengalahkan raksasa yang mengejar Timun Mas. Setiap babak pertempuran dengan raksasa, ada operasi hitung yang harus diselesaikan, mulai dari yang ringan sampai yang kompleks.

Contoh tersebut adalah bentuk dari pemanfaatan cerita sebagai metode belajar. Cerita sebagai bingkainya dan pelajaran dimasukkan di dalamnya.

3. Cerita sebagai pelajarannya sendiri

Biasanya bercerita yang model ketiga ini digunakan untuk membangun atau menguatkan karakter anak. Cerita-cerita moral, seperti cerita dari kakek atau nenek kita ketika menjelang tidur, biasanya mengandung pelajaran. Nah, yang seperti inilah bentuk pemanfaatan cerita sebagai pelajaran.

 

Bagaimana kita memanfaatkan cerita untuk proses belajar di kelas atau sekolah? Ketiganya boleh digunakan, disesuaikan dengan kebutuhannya.

Bagaimana proses belajar di sekolah Kakak? Tertarik untuk menggunakan cerita untuk proses belajar?

Malam ini, tema ini akan dibahas di #EduStory, Senin, 7 Mei 2012, pukul 19.00 WIB. Jangan lewatkan, karena tema ini menarik bagi Kakak-kakak yang bekerja di bidang pendidikan atau orangtua yang mendidik anak-anaknya.

Tags:

Suka dengan artikel ini?

Seorang bapak dari @bintangABC | CCO @IDCerita | Penulis | Penulis Cerita Anak | Kreator dan Fasilitator Mosaic Learning | Konsultan Belajar, Pemberdayaan Diri, Passion | Psikolog Pendidikan

http://rudicahyo.com/ user

1 Trackback

  1. [...] posting #edustory sebelumnya, telah diulas bagaimana bercerita menjadi aktivitas mengajar yang dilakukan oleh guru atau orang [...]

Tulis Komentar

Email Anda tidak akan pernah di share ke orang lain. Wajib Diisi *

*
*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>