Blog Indonesia Bercerita

Mendidik melalui Cerita. Membebaskan imajinasi anak. Membangun karakter bangsa.

1

#EduStory 76: Hari Anak Nasional, Apakah Kita Sudah Cukup Peduli?

Author : rudicahyo | July 25, 2013 at 1:32 am

Tanggal 23 Juli diperingati sebagai Hari Anak Nasional. Kiranya hari ini bisa menjadi momentum yang tepat untuk merenungkan kembali perlakukan kita kepada anak.

Hari Anak Nasional ditandai dengan banyaknya ucapan selamat dan himbauan tentang perlakuan kepada anak. Apakah cukup hanya itu? Bahkan juga tak harus menunggu hari anak. Namun Hari Anak Nasional tetap bisa menjadi momentum untuk kembali merefleksikan apa yang telah kita lakukan selama ini kepada anak.

Sebagai orangtua, apakah kita sayang kepada anak? Hampir dipastikan jawabannya adalah ‘iya’. Namun pertanyaan selanjutnya, apakah bentuk kasih sayang kita? Apaka cara kita menyayangi anak telah benar?

Faktanya, masih banyak orangtua menyalahartikan kasih sayang dengan berbagai tindakan yang tak baik buat masa depan anak. Bahkan ada juga yang berlindung di balik kasih sayang agar tidak terlalu repot berurusan dengan merawat atau mendidik anak. Kata yang paling pas adalah ‘ketidakpedulian’. Banyak orangtua yang mengatakan dirinya sayang pada anak. Tapi apakah mereka sudah peduli dengan cara mereka menyayangi?

Beberapa fakta berikut ini adalah bentuk ketidakpedulian pada anak, meskipun tetap merasa telah menyayangi anak. Dan hal ini sering kita temui:

1. Menyuplai semua keinginan anak

Memenuhi keinginan anak adalah hal yang bagus. Menjadi tidak baik ketika kita pukul rata untuk semua keinginan. Apa bentuk ketidakpeduliannya? Kita tidak peduli tentang kualitas keinginan anak. Kita tidak sejenak mencurahkan waktu untuk memikirkan kembali ketika anak meminta sesuatu.

2. Tidak ada waktu bersama anak

Banyak orangtua dan anak yang hidup dalam dunia yang berbeda. Orangtua punya dunianya sendiri, demikian juga dengan anak. Orangtua baru merasa ada yang berbeda ketika sebuah hal negatif terjadi pada diri anak. Apa bentuk ketidakpeduliannya? Iya, tidak peduli dengan waktunya anak, hanya peduli dengan penggunaan waktunya sendiri.

3. Tidak mengajak anak bercerita

Selain waktu, tidak adanya komunikasi, jarangnya orangtua mengajak anak bercerita, juga jadi penyebab anak dan orangtua hidup dalam dunianya sendiri-sendiri. Apa bentuk ketidakpeduliannya? Orangtua tidak peduli aktivita yang dilakukan oleh anak. Ia hanya peduli pada kegiatannya sendiri. Padahal melalui cerita, anak akan terbuka. Dan melalui cerita pula orangtua bisa mengamati perkembangan serta mengontrol aktivitas anak.

4. Menggantikan peran orangtua kepada pengasuh

Bagian yang keempat ini sering kita lihat di kehidupan serba modern dan serba cepat dewasa ini. Apa bentuk ketidakpeduliannya? Kita tidak peduli pada perkembangan anak. Orangtua adalah guru utama buat anak.

5. Memindahkan kehidupan anak ke sekolah

Sama seperti mengoperkan anak ke pengasuh, sebagian orangtua juga memasrahkan pendidikan anaknya ke sekolah. Padahal, rumah adalah tempat belajar utama untuk anak. Apa bentuk ketidakpeduliannya? Kita tidak peduli kepada pendidikan utama bagi anak. Bukankah kita sering melihat anak-anak dengan sekolah sehari penuh (full day) dengan maksud sebagai waktu tunggu ketika orangtua seharian bekerja?

 

Itulah 5 bentuk ketidakpedulian kita kepada anak. Adakah ketidakpedulian lain yang sudah kita lakukan selama ini? Apakah kita sudah cukup peduli kepada anak kita?

Tags: ,

Suka dengan artikel ini?

Seorang bapak dari @bintangABC | CCO @IDCerita | Penulis | Penulis Cerita Anak | Kreator dan Fasilitator Mosaic Learning | Konsultan Belajar, Pemberdayaan Diri, Passion | Psikolog Pendidikan

http://rudicahyo.com/ user

1 Komentar

  1. Posted July 25, 2013 at 6:20 pm | Permalink

    1. sebab bila tidak dipenuhi keinginannya akan ngambek
    2. sebab orang dewasa lain mempercayakan tanggung-jawab yang menyita waktu
    3. sebab cerita membosankan, lebih menarik visual
    4. sebab ada yang butuh kerja dan ada yang butuh bantuan
    5. sebab setelah dewasa hidup dihabiskan di kantor dan jalanan

    betul?

    Beri pengertian pada anak. Setelahnya berjanjilah pada anak. Yang terakhir tepatilah semua janji pada anak itu. Like us, they need reason to live happily.

Tulis Komentar

Email Anda tidak akan pernah di share ke orang lain. Wajib Diisi *

*
*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>