Blog Indonesia Bercerita

Mendidik melalui Cerita. Membebaskan imajinasi anak. Membangun karakter bangsa.

0

Mengapa Perlu Menyiapkan Generasi Life-Ready?

Author : rudicahyo | March 22, 2012 at 6:33 am

Satu kata kunci yang paling tepat untuk menggambarkan zaman informasi adalah cepat. Kecepatan ini membuat semua orang yang ada di zaman ini berpacu, tak terkecuali anak-anak. Balapan kehidupan inilah yang juga membuat anak rentan stres, sebagaimana dialami oleh orang dewasa.

“Didiklah anakmu untuk suatu zaman yang bukan zamanmu”
(Ali bin Abi Thalib)

Kuiki Ekspresiani, 11 tahun, adalah seorang anak yang setiap pagi berangkat ke sekolah. Sampai aktivitas pertama ini, Kuiki setara dengan anak-anak pada zamannya, semua bersekolah. Ternyata, pulang dari sekolah, Kuiki langsung tancap gas untuk mendapatkan pelajaran tambahan, komputer, Bahasa Inggris, dan Matematika. Tiga jam tambahan ini adalah yang wajib ia tempuh karena program dari sekolah. Sampai di sini, aktivitasnya masih sama dengan teman-temannya, minimal teman-teman sekolahnya.

Keluar dari aktivitas yang formal, Kuiki mendapatkan lagi jam tambahan di pelajaran yang sama: Bahasa Inggris dan Matematika. Hanya saja, kali ini ia mendapatkan dari lembaga bimbingan belajar. Tak hanya itu, karena Kuiki akan menempuh ujian nasional, ia memperbanyak pelajaran tambahan dengan IPA. Tentu saja berbagai jam tambahan ini membuat ia berkejaran dengan waktu. Kuiki masih harus menyelesaikan tugas mengetik makalah dan mentabulasi keuangan sebagai tugas pelajaran ekstra komputer.

Semua aktivitas berbau pelajaran ini menghabiskan waktu Kuiki selama seharian penuh. Malamnya, Kuiki masih harus menyambut guru privat sempoa dengan sisa senyumnya. Sayangnya, kalimat pertama yang diucapkan oleh guru privatnya adalah, “PR yang kemarin sudah dikerjakan?”

Kita buat saja pengandaian: yakni, Kuiki akan bertanya balik, “Tugas yang mana, Pak?” Guru menjawab, “Bapak sudah kirimkan tugasnya melalui e-mail.” Kuiki menepuk jidat untuk kesekian kalinya. Ini karena ia cuma punya e-mail, tapi belum pernah membukanya. Itupun yang membuatkan e-mail adalah guru komputernya. Coba bayangkan jika guru privatnya sering mengucapkan hal yang mengejutkan Kuiki. Pasti di dahi Kuiki akan jelas terlihat bekas telapak tangannya yang menghiasi.

Tuntutan hidup Kuiki sebagai keharusan dari orang dewasa agar mempunyai kemampuan sesuai zamannya, begitu tinggi. Mereka berusaha memberikan pendidikan terbaik untuk anaknya melebihi tuntutan zaman sekarang ini, tetapi mendidik untuk masa depan.

Mengapa orangtua harus mendidik anak untuk masa depan? Lagi-lagi, karena balapan informasi menjadi bentuk tuntutan zaman. Bagi siapa saja yang ingin menjadi peserta balapan namun tidak mampu mengimbangi kecepatannya, pasti terancam dengan penyakit zaman bernama stres. Tuntutan ini tak hanya dirasakan oleh orang dewasa, tetapi juga anak-anak, sehingga stres juga menjadi penyakit yang menghinggapi anak-anak. Bahkan menurut Dra. Ratih Ibrahim MM.Psikolog, Direktur Personal Growth, anak usia bawah lima tahun (balita) juga bisa mengalaminya. Ditemukan bahwa 4 dari 5 anak yang datang berkonsultasi kepada mereka, menampilkan indikasi stres berat.

Masih menurut Bu Ratih, gejala dari anak-anak yang mengalami stres ini tampak secara fisik, emosional, psikologis, pula sosial. Tanda-tandanya antara lain adalah rewel, mudah tersinggung, pemarah, kehilangan minat, percaya diri luntur, menunjukkan sikap gelisah, uring-uringan, bahkan ada yang menarik diri dari pertemanan.

Dari catatan serangkaian proses konseling bersama anak dan orangtuanya, Personal Growth menemukan beberapa faktor penyebabnya. Faktor tersebut antara lain gaya pengasuhan orangtua (parenting style) yang kurang tepat, baik yang sifatnya otoriter, kurang demokratis, atau abai terhadap anak. Faktor lain juga berasal dari tekanan dari lingkungan (social pressure) maupun cara stimulasi orangtua yang keliru. Menurut Bu Ratih, ini terjadi karena antara orangtua menuntut, sedangkan komunikasi mereka dengan anak tidak berjalan baik.

Orangtua mendidik anaknya melebihi zaman dimana anak sekarang hidup. Mereka mendidik anak-anak untuk masa depan. Hal ini dimaksudkan agar dapat mengimbangi kecepatan zaman yang ditandai dengan teknologi informasi. Penggunaan internet untuk keperluan sehari-hari menjadi tren. Selain dibutuhkan, internet juga menjadi artefak yang menandai betapa cepatnya informasi membanjiri kita.

Setiap era dengan berbagai fenomenanya pasti dirasakan oleh orang yang hidup di era tersebut. Internet tidak hanya menjadi bagian dari kehidupan orang dewasa, tetapi juga anak-anak, karena mereka juga hidup di zaman ini. Dengan demikian, anak-anak juga termasuk pengguna yang merasakan manfaat dan sekaligus persoalan yang ditimbulkan internet.

Dengan internet, orang cukup duduk di depan komputer atau laptop. Banyak urusan yang dipisahkan jarak dan waktu kemudian lebih mudah ditangani. Apalagi sekarang hand gadget yang menjamur memungkinkan semua orang mengakses dunia yang jauh, di manapun dan kapanpun.

Namun demikian, teknologi ini jadi pisau bermata dua yang rentan bagi anak-anak. Orangtua mungkin lebih bijak dalam menggunakan pisau tersebut, tapi anak-anak butuh pengawasan agar tidak sembrono dalam memanfaatkannya. Selain itu, pemanfaatan yang berlebihan juga membuat berkurangnya interaksi anak secara langsung dengan lingkungan sosialnya.

Kuiki, dari contoh kasus sebelumnya, masih mengalami persoalan kecil berkenaan dengan internet, yaitu miskomunikasi dalam pemanfaatan fasilitas email. Jika penggunaan internet ini menjadi kebiasaan semua guru Kuiki dan terjadi juga antara dia dan teman-temannya, maka interaksi antar mereka mulai berkurang. Sampai pada tingkat yang berlebihan, hal ini akan menumpulkan kemampuan sosial anak-anak seusia Kuiki. Ini sekali lagi adalah contoh bahwa apa yang jadi tuntutan orang dewasa sebagai konsekuensi zaman, juga dialami oleh anak-anak. Belum lagi jika orang dewasa, dalam hal ini orangtua, juga menuntut anak sesuai dengan keinginan mereka. Stres jelas menjadi kemungkinan dampaknya.

Fenomena anak yang menunjukkan indikasi stres berat merupakan indikasi dari adanya pelanggaran hak anak. Komnas Perlindungan Anak mencatat sepanjang 2011 terjadi peningkatan berbagai bentuk pengabaian dan pelanggaran hak anak di Indonesia, sehingga gejala anak stres di Indonesia pun meningkat pula.

Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait, mengungkapkan bahwa sepanjang 2011 Komnas PA mencatat terjadinya 2.386 kasus pelanggaran, atau jika dirata-rata, mereka menerima laporan 200 kasus setiap bulan. Angka itu meningkat 98 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Hasil pantauan dan konseling mereka menunjukkan bahwa 82.9 persen penyebab anak stres berasal dari minimnya komunikasi orangtua,  ditambah dengan padatnya aktivitas anak, sehingga hak bermain dan rekreasi anak sangat berkurang. Apa yang dikatakan Arist ini mungkin juga sedang dialami oleh Kuiki.

Tidak bisa ditunda lagi; ada banyak hal yang perlu kita lakukan untuk membantu anak-anak kita sebagai bagian dari masyarakat dunia yang memiliki kompetensi individual dan sosial agar tangguh dan mampu menjawab tantangan di masa depannya. Bisa dikatakan, kita perlu bekerja bersama-sama untuk membangun generasi muda yang siap menjawab tantangan zaman, the life-ready generation.

Generasi life-ready memiliki kompetensi individual baik secara fisik, kognitif, emosional, dan juga kompetensi sosial, sehingga ketika seorang anak menapaki masa depannya ia siap dan tangguh dalam menjawab tantangan Indonesia sebagai bangsa, dalam persaingan dunia.

Bagaimana kakak menyiapkan anak menjadi generasi life-ready di era teknologi informasi?

Tags:

Suka dengan artikel ini?

Seorang bapak dari @bintangABC | CCO @IDCerita | Penulis | Penulis Cerita Anak | Kreator dan Fasilitator Mosaic Learning | Konsultan Belajar, Pemberdayaan Diri, Passion | Psikolog Pendidikan

http://rudicahyo.com/ user

Tulis Komentar

Email Anda tidak akan pernah di share ke orang lain. Wajib Diisi *

*
*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>